Mariyam Susana Dewi Darma can be seen here…
PASRAH….
… pada rasa yang ada
biarkan waktu mempermainkan rasa yang tetap ada padamu, padaku..
meski hanya lirikan lemah dari belakang jendela bis yang membawamu pergi meninggalkanku di halte bis siang itu, kutahu rindu ini masih dan akan tetap ada dalam bentuk yang akan selalu berubah.
seribu cara telah kamu coba untuk megingkari pesonaku di dirimu
seribu cara telah kucoba untuk menyangkal rasaku untukmu:
tak peduli bagaimana kamu berusaha untuk mengabaikanku
tak peduli marahnya aku pada sikap dinginmu
tak peduli berapa banyak protesku atas sikap egoismu (setidaknya mnurutku)
tak peduli betapa beda kita melihat hidup
mungkin ini saatnya kita menerima rasa yang ada tanpa ego akan sebuah pengakuan; tanpa ego yang menuntut sepenggal kalimat ’aku cinta padamu’.
nikmati sajalah sebuah kemungkinan bahwa hati seorang manusia dapat seluas samudra: ada lebih dari satu cinta yang mewarnai perjalanan hidup kita. dalam waktu yang bersamaan.
tak perlu lagi kita lawan rasa yang ada
pertarungan telah usai saat ego telah kita mengerti.
karlsruhe, 25 april 2009
Ya.. pada hidup
Senyum yang terlukis
bukan berarti tak ada sedih, bukan berarti kesempurnaan hidup telah tercapai
senyum ini tidak hanya mencerminkan kebahagiaan belaka
Kadang… senyum ini adalah kepasrahan, ketakberdayaan, ketakmampuan untuk menangis (lagi)
Ceria yang tersirat,
bukan untuk mengingkari sedih, takut, ragu, bingung, resah atau marah
rasa itu ada, bercampur dan (seringkali) berujung pada tanya dalam benak
menyulut sumbu untuk tak menyerah
jadi..senyum yang setia menyertai, keceriaan yang sering kali diperlihatkan..
adalah sebuah pilihan sadar untuk berkata : ” Ya… pada hidup!”
bermuara dari kesadaran ‘itulah hidup’;
dari laku sederhana : menyadari tarikan dan hembusan nafas
Karlsruhe, 22nd April 2009
(untuk semua orang yang menyangka kalau saya sedang jatuh cinta pada seseorang, hanya karena saya sering bernyanyi dan banyak tersenyum akhir-akhir ini)
…
i know everything will be O.K. at the end
i know everything will be over someday
it is just so difficult to live these days
it is so hard to see you there every single moment
it is so hard to even just breath in front of you
this sorrow creates the powerless feeling
this sorrow is deeper than only tears
somehow my emotion, your emotion playing around without our permission
i know i just can’t do anything about it
it is nothing to fight, it just the matter of waiting
it is just to let things happen as they are (as one of our friends said)
i know, i just can only take a deep breath,
hoping that ’someday’ will come soon
after all, mbana loba ndolo! still..
Karlsruhe, 9th April 2009
9:57 am
Kata-kata
Kata-katamu telah menampar pipiku.
Tidak…tidak…tidak menjadikanku terpuruk, layu lalu mati
tapi menampar kesadaranku,
menggelorakan semangat untuk bertahan
Melihatmu, adalah siksa tersendiri bagiku, lemahkan semangatku
dalam diam kurasakan tatapan mata nan tajam,
mencela apa yang kulakukan sebagai tak bernilai
bagai ombak yang meratakan kembali menara yang kucoba dirikan di tepi pantai kala senja menyapa
tapi ini janjiku : aku akan kembali esok pagi-pagi sekali, kala mentari masih tertidur
akan kubangun lagi menaraku, menunggu senja tiba dan menantang ombak untuk menghancurkannya lagi.
kan kulakukan ritual yang sama berkali-kali sampai ombak mengerti, kalau menaraku dibangun bukan untuk dihancurkan.
maaf, kalau untuk sementara aku ingin berperan sebagai perempuan bisu.
(karlsruhe, 13 feb 2009)
IF
(Karlsruhe, 29th January 2009 at 8.40 pm, in the middle of German class)
Kasih,
Pergilah, kalau bersamaku matamu berhenti bersinar
Pergilah, kalau disampingku senyummu membeku
Pergilah, kalau keraguan tak jua sirna dari wajahmu
Pergilah, kalau hadirku terbitkan resah dijiwamu
Maaf karena ku terlalu lemah tuk cegah apa yang pernah teradi
Maaf kalau pertemuan kita membuatmu menjadi sosok yang tak pernah sama lagi
Biarkan kita melangkah, mengambil jalan yang berbeda
’tuk bebaskan jiwa kita yang terkungkung; tuk sembuhkan luka yang tak sengaja tertoreh
biarkan waktu mencatat, kita masih mengakui eksistensi sebuah nilai, meski kita harus membiarkan rindu ini menguap di udara
biarkan waktu mencatat bahwa sesal yang ada tak kan surutkan langkah kita untuk terus maju.
301 : A moment of sharing
Since 15 September 2007, the room 301 of Institute for Synchrotron Radiation (ISS) at Forschungszentrum Karlsruhe (FZK) was formally dedicated for PhD student office based on the politic ‘first come first serve’. At that time there were several new PhD students and 4 of them are lucky enough to be part of this room. Here they are:
Edwin Bobga Fothung, the Cameroonian guy whom I ‘baptized’ as ‘the most original’ Russian in the institute thanks to his excellent ability of speaking Russian (according to other russian colleagues). We (Bojan, I and Mexx) encourage him to apply for being the first black 007 agent. If you have chance to be around him, just prepare yourself for his unexpected and surprising (but fresh) jokes or comments. He is a cool guy who can see things in different perspektif. And ehm…never ask about direction to him: you will be more lost! Peace Edwin!!!! By the way, we are waiting good news from you and Tanja.
Bojan Miljevic, is now waiting for his third children. He is our boy scout. If we go with him to the unrecognized area, we never worry about direction because somehow he always finds the way. He is a kind of ‘walking and living GPS’ for us. So whenever you lost, just give him a call and he will guide you without any charge! He is also my tandem in my PhD thesis.
I, my self. But I am too shy to describe my self, except that I am Indonesian! J
Xu Feng, the most well and nice dress person amongst us. At the moment she is a visiting scientist in European Synchrotron Radiation Facility (ESRF) at Grenoble, France. She is planned to comeback on June/July this year. Her place is replaced by Markus Riotte.
Markus Riotte or just call him Mexx. He is a really nice, helpful and polite guy. We (BOjan, Edwin, Feng) knew him since he was a diploma student in our institute. At the beginning of our arrival in Karlsruhe, he helped us a little bit to integrate our self with other German students. He invited all of us to his party, to his Erasmus Mundus meeting and so on, including some information about university stuff.
Since beginning we met in room 301, we somehow managed to grow the chemistry in such a way so that the atmosphere in this room is quite dynamic. I think it is because each of us had experiences to be in the multi culture environment. Those experiences help us to see the differences as best gifts in life. We have really big tolerance one to another. As for simply example, we have different music preferential (we love to work with music): Bojan with his jazz or Serbian orthodox music; Edwin with his french and Cameroon music, I with more melancholic music, Feng with Chinesse music and so on. And Mexx… I think he just ‘discovered’ his hidden talent to be dj in our room: he started his dj business today with Jimie Hendrix (ehm… lend by Bojan). We also have differences in character, in working rhythm. As for me, in the beginning it was quite difficult to work in this room (may be also for others). By the time pass, everything is O.K. We can distinguish the time for working or relaxing.
Thus, life in 301 is not only about science: it is also about sharing music, sharing food, sharing coffee or tea, sharing both sad and happy stories, sharing information, sharing affection and empathy, sharing worries and so on. For us, room 301 is the place where we learn, share and grow up together both in scientific and personal direction. It doesn’t mean that we never had argued. We do but we discuss and solve it!

